Tragedi Mikrofon yang Bikin SBY ‘Bete’ Kembali Terjadi

Jakarta – Baru Kamis kemarin Presiden SBY kesal dengan mikrofon yang mati saat berkunjung ke Kantor Pertamina, hari ini insiden serupa terjadi. Kali ini giliran mikrofon Istana yang bikin SBY ‘bete’.

Ceritanya, SBY hendak jumpa pers soal perkembangan Aceh setelah 4 tahun ditangani Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias. Setelah beberapa menit berbicara, tiba-tiba mikrofon wireless mati. Hidup kembali, kemudian mati lagi. SBY pun merasa terganggu.

Paspampres yang mengetahui wireless mati langsung meminta sejumlah wartawan yang posisinya menutupi loudspeaker untuk minggir. Tujuannya agar sinyal tak terganggu.

Salah seorang staf humas Setneg mencoba untuk memberikan mikrophon kepada SBY. Namun, dengan mengibaskan tangannya, SBY tidak mau menerimanya.

“Bukan-bukan. Masalahnya ada di sana,” ujar SBY sambil menunjuk ke loudspeaker. Setelah byar pet selama beberapa kali, akhirnya wireless hidup kembali. SBY pun melanjutkan jumpa pers.

Kejadian serupa terjadi Kamis 12 Februari kemarin
di Kantor Pertamina. Mikrofon yang ada di depan SBY tidak nyala. SBY menanyakan apakah sebelumnya sudah dicek. Akhirnya, mikrofon yang ada di depan mantan Kapolri Jenderal (Purn) Sutanto dipakai SBY.
(anw/nrl)

Mic Mati Saat Pidato di Pertamina, SBY pun Mendongeng

Jakarta – Insiden kecil memang bisa sangat berpengaruh dalam keberhasilan. Termasuk masalah kecil seperti matinya microphone atau mic. Padahal mic sangat penting dalam sebuah rapat yang dihadiri banyak peserta.

Insiden ini terjadi saat kunjungan kerja SBY ke kantor pusat Pertamina, Jakarta, Kamis (12/2/009). Ini adalah kunjungan pertama SBY ke Pertamina setelah Karen Agustiawan menjadi Dirut.

Awalnya, saat Presiden mau berbicara tiba-tiba microphonenya tidak berfungsi. Ia pun mengecek pada petugas kerumahtanggaan (rumgas).

“Kapan diceknya?” tanya SBY.

Selang beberapa menit kemudian, karena mic tak kunjung nyala, akhirnya mantan Kapolri yang kini menjadi Komut Pertamina Sutanto memberikan microphone-nya ke SBY.

Mendapat mic yang akhirnya bisa digunakan, SBY pun mulai membuka mulut. Tapi bukannya langsung membuka rapat, SBY pun mendongengkan sebuah analogi terkait matinya mic.

Ia memulai dongengnya dengan menganalogikan sebuah rapat kerja dengan pertempuran.

“Ketika akan menghadapi sebuah pertempuran, ada kuda yang sepatunya tidak terpasang dengan baik dan kuda itu digunakan komandan perang,” katanya.

Ungkapannya ini mirip dengan tidak berfungsinya mic yang seharusnya dipakai orang nomor satu di Indonesia itu. Ia pun melanjutkan dongengnya.

“Ketika di medan perang, sepatu kuda itu terlepas. Sehingga kaki kuda lemah. Kuda itu jatuh, sehingga otomatis komandan terjatuh dan tidak dapat memenangkan peperangan,” ujarnya.

Setelah menceritakan hal itu, ia pun memberikan penjelasan apa yang dimaksudnya dengan cerita beliau tersebut. Ia menekankan pentingnya memeriksa semua persiapan bahkan hal-hal yang kecil sekalipun.

“Oleh karena itu, saya selalu meminta cek dan ricek hal-hal kecil. Karena hal itu juga akan menentukan keberhasilan. Makanya saya selalu mengecek ketika event-event internasional,” katanya.

Menurut SBY, dalam acara internasional, ia selalu mengecek dimana orang-orang penting akan duduk. Baginya, posisi duduk juga termasuk hal yang penting untuk mencapai tujuan.

“Saya cek dimana Ban Ki-moon (Sekjen PBB) duduk, Kofi Annan (mantan Sekjen PBB) duduk. Karena ini penting agar tujuan kita tercapai,” katanya.

Usai memberi wejangan panjang lebar, ia pun mulai membuka rapat tersebut.

(lih/qom)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s